Senin, 28 Februari 2011
INDONESIA memang kaya akan tempat wisata peninggalan masa lalu. Karenanya, banyak tempat wisata di Tanah Air yang dianggap sebagai warisan budaya dunia.
Setidaknya terdapat tiga tempat wisata di Indonesia yang dianggap Unesco sebagai warisan dunia. Berikut ketiga tempat wisata tersebut:
Candi Borobudur
Candi Borobudur mendapatkan pengakuan dari UNESCO pada tahun 1991. Merupakan candi Buddha yang terletak di Magelang, Jawa Tengah. Candi ini didirikan oleh penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra.
Candi yang bila dilihat dari atas membentuk struktur Mandala (lambang alam semesta dalam kosmologi Buddha) ini tidak memakai semen sama sekali dalam pembangunannya, melainkan dengan sistem interlock (seperti balok Lego yang bisa menempel tanpa lem).
Candi Prambanan
Candi Prambanan mendapatkan pengakuan dari UNESCO pada tahun 1991. Merupakan kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Candi yang terletak 17 km dari pusat kota Yogyakarta ini dibangun di abad ke-10 pada masa pemerintahan dua raja, yakni Rakai Pikatan dan Rakai Balitung. Candi ini memiliki tiga candi utama di halaman utama, yakni Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa. Ketiga candi tersebut merupakan lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu.
Situs Sangiran
Situs Sangiran diakui UNESCO pada tahun 1996. Merupakan sebuah situs arkeologi yang terletak di Jawa Tengah. Secara administratif terletak di kabupaten Sragen dan Karanganyar. Pada awalnya penelitian Sangiran adalah sebuah kubah yang dinamakan Kubah Sangiran. Puncak kubah ini kemudian terbuka melalui proses erosi sehingga membentuk depresi. Pada depresi itulah dapat ditemukan lapisan tanah yang mengandung informasi tentang kehidupan di masa lampau.
Di situs ini, kita bisa menemukan banyak informasi soal sisa-sisa kehidupan masa lampau. Selain itu, terdapat informasi lengkap tentang sejarah kehidupan manusia purba dengan segala hal yang ada di sekelilingnya. Dari soal tempat hidup, pola kehidupannya, satwa yang hidup bersamanya sampai proses terjadinya bentang alam dalam kurun waktu tidak kurang dari 2 juta tahun yang lalu.
Kekayaan Alam Indonesia yang Terselubung
INDONESIA memang negeri yang kaya akan keindahan alamnya. Bahkan, semua wisata dunia terkenal pun ada disini. Jadi kita tidak usah repot untuk berwisata keluar negeri lagi, cukup di Indonesia.
Jika anda ingin berlibur, cobalah untuk mengunjungi beberapa tempat wisata di bawah ini. Pasti anda akan serasa berlibur di luar negeri.
Raja Ampat Papua dan Phi Phi Island, Thailand
Kepulauan Raja Ampat merupakan kepulauan yang berada di barat pulau Papua di provinsi Papua Barat. Pemandangan Raja Ampat Papua mirip dengan Phi Phi Island yang ada di Thailand bahkan lebih indah dari Phi Phi Island. Di Raja Ampat Papua kita bisa melihat Pulau-pulau yang berbukit-bukit hijau dengan air laut yang jernih.
Air terjun Moramo dengan Air terjun Niagara
Moramo adalah air terjun indah bertingkat tujuh yang terletak di kabupaten Konawe Timur, Sulawesi Tenggara. Air terjun ini tidak sebesar Niagara, tapi keindahannya tidak kalah dengan air terjun Niagara yang ada di perbatasan Amerika Serikat dan Kanada itu. Dengan air terjun Moramo yang lebih kecil, kita bisa menikmati air terjun Moramo lebih dekat dan bisa mandi di air terjun dan tentunya hal ini tidak bisa kita lakukan di air terjun Niagara.
Green Canyon dengan Grand Canyon
Green Canyon terletak di desa Cijulang Ciamis, Jawa Barat. Di Green Canyon kita bisa melihat sungai berwarna hijau tosca yang diapit dengan bebatuan dan rerimbunan pepohonan. Disana kamu juga akan melihat sungai yang menembus gua dengan keindahan batu-batu stalaktit dan stalakmitnya.
Alam sungai Cijulang yang mirip dengan ngarai-ngarai (canyon) di Grand Canyon Colorado, Amerika Serikat itu membuat daerah tersebut dikenal dengan nama ”Green Canyon”. Walaupun tidak sebesar Grand Canyon Amerika Serikat, Green Canyon Cijulang ini lebih hijau dibandingkan Grand Canyon di Amerika Serikat yang gersang.
Carstensz Pyramid dengan Mount Everest
Carstensz Pyramid dan Mount Everest merupakan bagian dari Seven Summit di 7 benua dunia. Carstensz Pyramid terletak di propinsi Papua. Kalau Mount Everest merupakan puncak tertinggi di dunia, Carstensz Pyramid merupakan puncak tertinggi di Indonesia. Kedua puncak gunung tersebut sama-sama diselubungi oleh salju abadi.
Taman Nasional Baluran dengan padang savana Afrika
Taman Nasional Baluran terletak di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Taman Nasional Baluran sering dijuluki sebagai Afrika-nya Jawa. Disini kamu bisa melihat miniatur Savana Afrika dan banyak satwa liar yang berkeliaran mirip di Afrika. Pemandangan Gunung Baluran yang mirip Kilimanjaro beserta hamparan savana dan rumput yang mengering berwarna keemasan menambah kesan bahwa daerah ini memang benar mirip Afrika.
Taman Nasional Wasur dengan alam Australia
Taman nasional Wasur terletak di Merauke, Papua. Taman nasional Wasur, memiliki habitat dan satwa mirip Australia, yaitu hutan savana dengan berbagai jenis kanguru. Di dalam kawasan TN ini terdapat berbagai jenis fauna dan flora diantaranya adalah Burung Kasuari, Cenderawasih, dan Kanguru yang berukuran lebih kecil dibanding kangguru Australia.
Gunung Pasir Parangkusumo dengan gurun Sahara
Gumug Pasir Parangkusumo terletak di Yogyakarta. Gumug pasir merupakan gundukan-gundukan yang berisi material pasir di sepanjang Pantai Parangtritis-Parangkusumo sampai muara Sungai Opak. Hal ini merupakan fenomenal unik karena hanya satu-satunya di Asia Tenggara kita bisa melihat padang pasir seperti padang pasir sahara. Walaupun gundukan pasir ini tidak seluas Sahara tapi membuat seolah-olah kita berada di Gurun Sahara.
Hutan Kalimantan dengan hutan Amazon
Kalimantan memiliki hutan hujan tropis dengan beberapa flora dan fauna yang mirip dengan hutan Amazon. Contohnya adalah Pesut, ular anaconda dan beberapa hewan langka yang hanya ada di Kalimantan dan Amazon. Kehidupan alam dan hutan di Amazon tak jauh beda dengan hutan Kalimantan. Lembab, becek, berawa serta terdapat danau-danau kecil yang kaya akan kehidupan khas lahan basah. Sungai-sungai di Kalimantan yang mirip dengan sungai Amazon menambah kemiripan antara Kalimantan dan hutan Amazon
Pantai Kuta Bali dengan Pantai Waikiki Hawaii
Bali banyak menyimpan pesona alam yang eksotis. Keindahan pantainya banyak disejajarkan dengan keindahan pantai di Pulau Hawaii. Contohnya adalah pantai Kuta hampir mirip dengan Waikiki terutama pantainya yang ramai dengan pasir putih dan pohon kelapa yang tumbuh di pantai.
Taman Sakura Cibodas dengan Sakura Jepang
Tak perlu jauh-jauh pergi ke Jepang untuk menikmati keindahan Sakura. Di Kebun Raya Cibodas, kita bisa melihat pohon Sakura yang sudah ditanam sejak tahun 1953 yang akan berbunga pada sekitar bulan Januari-Februari atau Februari-Maret. Di Kebun Raya Cibodas telah ditanam ratusan pohon Sakura dengan 7 jenis tanaman. Sekarang kita bisa menikmati `hanami`(tradisi melihat bunga) tanpa harus pergi ke Jepang dengan melihat mekarnya bunga Sakura di Cibodas.
Ranu Kumbolo dengan hutan pinus Eropa
Ranu Kumbolo terletak di Jawa Timur, sebuah danau di pegunungan Semeru dengan ketinggian 2500 meter di atas permukaan air laut. Disana juga terdapat padang rumput yang dikelilingi bukit dan gunung dengan pemandangan yang sangat indah, padang rumput luas dengan lereng yang ditumbuhi pohon pinus seperti di Eropa.
Ketika suhu berada di bawah 0°c , kadang-kadang terjadi hujan salju kecil. Jika suhu sangat dingin pinggir-pinggir danau ranukumbolo bisa membeku, dan juga terlihat rumput-rumput yang memutih seperti salju karena embun yang membeku di rerumputan yang membuat suasana seperti di Eropa.
Way kambas dengan Hutan India
Way Kambas Sumatera memiliki satwa yang mirip dengan satwa yang ada di hutan India seperti gajah, harimau, Badak dan beberapa hewan lain. Taman Nasional Way Kambas (TNWK) terletak di propinsi Lampung. Di Way Kambas ada wisata naik gajah sehingga kita bisa merasakan sensasi seperti raja-raja India yang konon bepergian dengan menunggang gaja
(uky)
Oknum Polisi Hajar Jemaat Gereja
Senin, 28 Februari 2011 21:14 wib
GUNUNGKIDUL - Salah seorang oknum anggota Intelkam Kepolisian Resort Gunungkidul, Yogyakarta, berinisial Her (28), diduga memukuli tiga jemaah Gereja Bethel Indonesia (GBI) saat pulang kebaktian pada Sabtu malam.
Dari informasi yang dikumpulkan, waktu itu korban pulang dari kegiatan gereja. Sesampainya di daerah Taman Bunga Kota Wonosari, tiba- tiba pelaku menghampirinya dengan sebuah mobil bersama teman temannya.
Pelaku langsung turun dan memukul muka Er. Aksi ini langsung dilerai dua teman korban, namun justru keduanya juga diamuk pelaku. Aksi gaduh ini akhirnya berhasil diselesaikan dan korban diamankan para jemaat lainnya.
Kontan keributan tersebut memicu perhatian masyarakat sekitar untuk melerai. Selang beberapa saat kemudian, muncul beberapa petugas polisi mendatangi lokasi untuk meminta keterangan kejadian pemukulan tersebut.
Dihubungi melalui ponselnya Kanit Provost Polres Gunungkidul Iptu Suharyanto membenarkan kejadian tersebut, dan pihaknya sudah memeriksa pelaku, kini sudah diselesaikan secara kekeluargaan.
“Benar memang ada sedikit insiden kecil, namun sudah diselesaikan secara kekeluargaan,” terangnya. Ketika disinggung mengenai dugaan jika anggota polisi tersebut sebelumnya meneguk minuman keras sehingga dirinya mabuk, Suharyanto dengan tegas membantahnya.
(ful)
Minggu, 27 Februari 2011
SEJARAH BUKIT TANGKILING
INGAT kisah Sangkuriang. itu jejaka Sunda yang berniat menikaihi ibunya sendiri. Dayang Sumbi? Di Kalimantan Tengah ada dongeng rakyat serupa tentang seorang pemuda Dayak, Tangkiling namanya. Tapi berbeda dengan Sangkuriang, Tangkiling ini sudah berhasii bermalam pengantin dengan ibunya. Baru setelah kedua ibu dan anak itu tidur seranjang dalam bahtera (banama) milik Tangkiling, ibunya mengenali kembali anaknya yang lari dari rumah karena diketok kepalanya dengan ciduk penggoreng 35 tahun berselang. Makanya kutukan Dewata lebih dahsyat pada Tangkiling dan ibunya ketimhang Dayang Sumbi & Sangkuriang. Tangkiling dan enam orang kawannya musnah disambar petir lantas berubah jadi batu, begitu pula bahtera milik Tangkiling. Sedang sang ibu terkungkung hidup-hidup dalam bahtera batu yang letaknya 30 Km dari Palangkaraya, sampai kini.
Begitulah cerita Damang Tero, Kepala Adat di desa Tangkiiing yang masih beragama Kaharingan pada setiap pengunjung yang masih percaya pada kesaktian Bawi Kuwu (wanita pingitan) dalam Batu Banama di puncak bukit Tangkiling itu. Desa Tangkiling kini dihubungkan dengan jalan aspal - boulevard terbagus di seluruh Kalimantan Tengah, kata orang - sampai ke Palangkaraya. Soalnya, bukit-bukit granit di desa Tang ling itu semenjak Kal-Teng menjadi propinsi sendiri merupakan sumber batu bangunan yang utama bagi pembangunan kota Palangkaraya. Banyak transmigran dari Jawa yang drop-out dari sektor pertanian bekerja menambang batu granit di Tangkiling yang kini menjadi obyek pariwisata satu-satunya bagi penghuni Palangkaraya. Nah, di puncak bukit yang tertinggi lewat jalan setapak yang cuma 1? Km jauhnya terletak batu banama (batu bahtera) itu. Tinggi batu yang bagian bawahnya lancip seperti limas kapal itu, kira-kira 2 x tinggi orang dewasa, dan panjangnya 10 meter. Dari jauh nyaris tak tampak karena ditumbuhi pepohonan dan semak-semak, lengkap dengan akar-akar gantungnya. Namun kalau didekati, bentuknya yang seperti kapal itu memang tampak menyolok. Mungkin dari situlah berkembang cerita rakyat, bahwa batu itu dulunya bahtera si Tangkiling ratusan atau ribuan tahun yang lalu, ketika desa itu masih terletak di pinggir laut. Dan memang, pasir putih yang merupakan fundasi kota Palangkaraya sekarang dan struktur geologis bagian selatan Kalimantan dulunya masih berujud laut ketika pedalaman Kal-Teng sudah berujud hutan. Pada zaman bahari itulah di desa tadi ada seorang perempuan muda dengan anak satu-satunya, Tangkiling.
Pada suatu hari Tangkiling pulang tengah hari merengek-rengek minta makan, sementara ibunya sedang menggoreng nasi dalam rinjing (kuali). Karena dia tak mau berhenti merengek-rengek, ibunya yang penasaran mengetok kepalanya dengan suduk rinjing (sendok penggoreng). Tangkiling bukannya berhenti menangis, tapi lari ke pelabuhan dengan luka di kepalanya. Di sana ada kapal yang kebetulan mau bertolak, dan Tangkiling pun ikut berlayar meninggalkan kampung halamannya. Nasib mujur rupanya menyertai Tangkiling dalam pengembaraannya itu. Seorang saudagar pelayar mengangkatnya sebagai anak. Dan ikutlah dia berlayar ke mancanegara. Setelah lama bekerja di bawah ayah angkatnya itu, satu ketika Tangkiling diberi kapal banama sendiri oleh ayah angkatnya, dan Tangkiling pun menjadi saudagar yang kaya dan beken di luar negerinya. Setelah 35 tahun meninggalkan kampung halaman, tanpa disadarinya bisnis Tangkiling menyebabkan dia singgah di pelabuhan kampung halamannya.
Mirip kisah si Malin Kundang di Sumatera Barat. Sementara ditinggal anak lelakinya, sang ibu yang rupanya tak bersuami resmi kembali masuk kuwu (semacam 'biara' tempat gadis-gadis yang belum bersuami 'diamankan' dari khalayak ramai). Makanya dalam legenda Dayak, ibu Tangkiling itu hanya dikenal dengan sebutan 'Bawi Kuwu'. Dan seperti juga dalam legenda Sangkuriang di Sunda, Bawi Kuwu tetap awet muda berkat jamu-jamu Dayak sebangsa tabat Banto dan sejenisnya. Makanya, ketika saudagar muda yang kaya raya itu turun dari bahtera dan berjalan-jalan di kampung halamannya sendiri (yang sudah tak diingatnya lagi), tiba-tiba dia terkesima melihat seorang perempuan -- ibunya sendiri -- turun dari kuwu. Keduanya serta merta jatuh cinta. Tangkiling tidak menunggu lama-lama. Bawi Kuwu segera dilamarnya dan lamaran itu pun kontan diterima. Pandai Menjahit Sesuai dengan ketentuan adat, mereka tidak segera kawin. Sebulan lamanya anak-buah Tangkiling menyiapkan pesta perkawinan yang meriah. Sesudah menikah Tangkiling tidak segera berangkat berlayar lagi, tapi masih tetap parkir di pelabuhan itu. Baru setelah tiga bulan bermesra-mesraan, rahasia ibu dan anak itu terbongkar. Tangkiling yang gondrong rambutnya itu minta ibunya menumpas kutu-kutu di rambutnya, dan tersingkaplah parut luka dari masa bocahnya. Bawi Kuwu terkejut, lalu buru-buru menanyakan asal-usul parut itu. Begitu Tangkiling selesai menceritakan riwayat insiden yang menyebabkannya lari dari rumah, ibunya pingsan. Tangkiling pun baru sadar, bahwa dia telah jadi korban sang Oedipus. Kontan ibu dan anak itu bercerai, dan Tangkiling pun lari ke hutan sementara ibunya saking malunya, tak berani turun dari bahtera.
Tangkiling tidak lari untuk menjauhkan diri, tapi untuk menebus dosanya sesuai dengan tuntutan adat. Bersenjata sumpit saja, dia bunuh sejumlah babi hutan dan menjangan untuk binatang kurban, lantas dia kembali ke kampung. Semua orang kampung diundangnya menghadiri pesta penebusan dosa. Pada saat hadirin sudah mabuk dan kekenyangan setelah menyantap suguhan Tangkiling, Raja Pali (Dewa Kilat) yang menjadi asisten Raja Tontong Matanandu (dewa tertinggi di alam-atas) mengirimkan kilatnya untuk menghukum Tangkiling yang telah melanggar hukum Pali (tabu). Tangkiling dan keenam pengawalnya berubah jadi batu. Begitu pula bahtera Tangkiling yang menjadi Batu Banama di bukit Tangkiling sekarang. Bawi Kuwu, terkurung hidup-hidup dalam Batu Banama itu. Riwayat Bawi Kuwu yang cantik jelita itu belum berakhir. Dia dikisahkan pintar menjahit pakaian, dan orang-orang yang percaya dapat memasukkan kain dalam salah satu celah di sisi samping bahtera batu itu, dan pakaian yang sudah terjahit akan ke luar dari situ. Namun suatu ketika, ada seorang Bagumpai (suku Dayak yang sudah masuk Islam, di perbatasan Kal-Sel/Kal-Teng) yang penasaran ingin melihat puteri yang cantik dan pintar menjahit itu. Dipancingnya Bawi Kuwu dengan sepotong kain untuk mengeluarkan tangannya dari celah itu. "Begitu tangan Bawi Kuwu terjulur dari celah, disambarnya tangan perempuan itu", tutur Damang Tero pada TEMPO.
Namun Bawi Kuwu tetap juga tak dapat diseret ke luar. Saking jengkelnya, orang Bagumpai tadi menghunus parangnya, dan memancung tangan puteri nan malang itu. Sejak saat itu, celah itu tertutup, dan sang puteri yang sudah buntung tangannya itu tak lagi mau melayani pesanan jahitan tanpa bayaran itu. Kini, setelah banyak orang Dayak masuk Kristen atau Islam, tak banyak lagi yang datang bersemedi ke batu itu mohon ini dan itu. Namun orang luar yang singgah ke Palangkaraya, biasanya tak lupa diantar oleh tuan rumahnya mengunjungi batu itu guna melihat betapa miripnya karya alam itu dengan bahtera kayu ciptaan manusia. Dan juga bagi pasangan muda-mudi yang sedang dirasuk cinta, naik ke atas batu itu dengan memanjat tangga kayu dan akar-akar yang bersliweran membuka peluang untuk berpacaran dengan aman. Asal permisi dulu pada Bawi Kuwu dan puteranya yang malang, yang namanya sudah diabadikan lewat nama desa di tepi sungai Rungan itu.
Begitulah cerita Damang Tero, Kepala Adat di desa Tangkiiing yang masih beragama Kaharingan pada setiap pengunjung yang masih percaya pada kesaktian Bawi Kuwu (wanita pingitan) dalam Batu Banama di puncak bukit Tangkiling itu. Desa Tangkiling kini dihubungkan dengan jalan aspal - boulevard terbagus di seluruh Kalimantan Tengah, kata orang - sampai ke Palangkaraya. Soalnya, bukit-bukit granit di desa Tang ling itu semenjak Kal-Teng menjadi propinsi sendiri merupakan sumber batu bangunan yang utama bagi pembangunan kota Palangkaraya. Banyak transmigran dari Jawa yang drop-out dari sektor pertanian bekerja menambang batu granit di Tangkiling yang kini menjadi obyek pariwisata satu-satunya bagi penghuni Palangkaraya. Nah, di puncak bukit yang tertinggi lewat jalan setapak yang cuma 1? Km jauhnya terletak batu banama (batu bahtera) itu. Tinggi batu yang bagian bawahnya lancip seperti limas kapal itu, kira-kira 2 x tinggi orang dewasa, dan panjangnya 10 meter. Dari jauh nyaris tak tampak karena ditumbuhi pepohonan dan semak-semak, lengkap dengan akar-akar gantungnya. Namun kalau didekati, bentuknya yang seperti kapal itu memang tampak menyolok. Mungkin dari situlah berkembang cerita rakyat, bahwa batu itu dulunya bahtera si Tangkiling ratusan atau ribuan tahun yang lalu, ketika desa itu masih terletak di pinggir laut. Dan memang, pasir putih yang merupakan fundasi kota Palangkaraya sekarang dan struktur geologis bagian selatan Kalimantan dulunya masih berujud laut ketika pedalaman Kal-Teng sudah berujud hutan. Pada zaman bahari itulah di desa tadi ada seorang perempuan muda dengan anak satu-satunya, Tangkiling.
Pada suatu hari Tangkiling pulang tengah hari merengek-rengek minta makan, sementara ibunya sedang menggoreng nasi dalam rinjing (kuali). Karena dia tak mau berhenti merengek-rengek, ibunya yang penasaran mengetok kepalanya dengan suduk rinjing (sendok penggoreng). Tangkiling bukannya berhenti menangis, tapi lari ke pelabuhan dengan luka di kepalanya. Di sana ada kapal yang kebetulan mau bertolak, dan Tangkiling pun ikut berlayar meninggalkan kampung halamannya. Nasib mujur rupanya menyertai Tangkiling dalam pengembaraannya itu. Seorang saudagar pelayar mengangkatnya sebagai anak. Dan ikutlah dia berlayar ke mancanegara. Setelah lama bekerja di bawah ayah angkatnya itu, satu ketika Tangkiling diberi kapal banama sendiri oleh ayah angkatnya, dan Tangkiling pun menjadi saudagar yang kaya dan beken di luar negerinya. Setelah 35 tahun meninggalkan kampung halaman, tanpa disadarinya bisnis Tangkiling menyebabkan dia singgah di pelabuhan kampung halamannya.
Mirip kisah si Malin Kundang di Sumatera Barat. Sementara ditinggal anak lelakinya, sang ibu yang rupanya tak bersuami resmi kembali masuk kuwu (semacam 'biara' tempat gadis-gadis yang belum bersuami 'diamankan' dari khalayak ramai). Makanya dalam legenda Dayak, ibu Tangkiling itu hanya dikenal dengan sebutan 'Bawi Kuwu'. Dan seperti juga dalam legenda Sangkuriang di Sunda, Bawi Kuwu tetap awet muda berkat jamu-jamu Dayak sebangsa tabat Banto dan sejenisnya. Makanya, ketika saudagar muda yang kaya raya itu turun dari bahtera dan berjalan-jalan di kampung halamannya sendiri (yang sudah tak diingatnya lagi), tiba-tiba dia terkesima melihat seorang perempuan -- ibunya sendiri -- turun dari kuwu. Keduanya serta merta jatuh cinta. Tangkiling tidak menunggu lama-lama. Bawi Kuwu segera dilamarnya dan lamaran itu pun kontan diterima. Pandai Menjahit Sesuai dengan ketentuan adat, mereka tidak segera kawin. Sebulan lamanya anak-buah Tangkiling menyiapkan pesta perkawinan yang meriah. Sesudah menikah Tangkiling tidak segera berangkat berlayar lagi, tapi masih tetap parkir di pelabuhan itu. Baru setelah tiga bulan bermesra-mesraan, rahasia ibu dan anak itu terbongkar. Tangkiling yang gondrong rambutnya itu minta ibunya menumpas kutu-kutu di rambutnya, dan tersingkaplah parut luka dari masa bocahnya. Bawi Kuwu terkejut, lalu buru-buru menanyakan asal-usul parut itu. Begitu Tangkiling selesai menceritakan riwayat insiden yang menyebabkannya lari dari rumah, ibunya pingsan. Tangkiling pun baru sadar, bahwa dia telah jadi korban sang Oedipus. Kontan ibu dan anak itu bercerai, dan Tangkiling pun lari ke hutan sementara ibunya saking malunya, tak berani turun dari bahtera.
Tangkiling tidak lari untuk menjauhkan diri, tapi untuk menebus dosanya sesuai dengan tuntutan adat. Bersenjata sumpit saja, dia bunuh sejumlah babi hutan dan menjangan untuk binatang kurban, lantas dia kembali ke kampung. Semua orang kampung diundangnya menghadiri pesta penebusan dosa. Pada saat hadirin sudah mabuk dan kekenyangan setelah menyantap suguhan Tangkiling, Raja Pali (Dewa Kilat) yang menjadi asisten Raja Tontong Matanandu (dewa tertinggi di alam-atas) mengirimkan kilatnya untuk menghukum Tangkiling yang telah melanggar hukum Pali (tabu). Tangkiling dan keenam pengawalnya berubah jadi batu. Begitu pula bahtera Tangkiling yang menjadi Batu Banama di bukit Tangkiling sekarang. Bawi Kuwu, terkurung hidup-hidup dalam Batu Banama itu. Riwayat Bawi Kuwu yang cantik jelita itu belum berakhir. Dia dikisahkan pintar menjahit pakaian, dan orang-orang yang percaya dapat memasukkan kain dalam salah satu celah di sisi samping bahtera batu itu, dan pakaian yang sudah terjahit akan ke luar dari situ. Namun suatu ketika, ada seorang Bagumpai (suku Dayak yang sudah masuk Islam, di perbatasan Kal-Sel/Kal-Teng) yang penasaran ingin melihat puteri yang cantik dan pintar menjahit itu. Dipancingnya Bawi Kuwu dengan sepotong kain untuk mengeluarkan tangannya dari celah itu. "Begitu tangan Bawi Kuwu terjulur dari celah, disambarnya tangan perempuan itu", tutur Damang Tero pada TEMPO.
Namun Bawi Kuwu tetap juga tak dapat diseret ke luar. Saking jengkelnya, orang Bagumpai tadi menghunus parangnya, dan memancung tangan puteri nan malang itu. Sejak saat itu, celah itu tertutup, dan sang puteri yang sudah buntung tangannya itu tak lagi mau melayani pesanan jahitan tanpa bayaran itu. Kini, setelah banyak orang Dayak masuk Kristen atau Islam, tak banyak lagi yang datang bersemedi ke batu itu mohon ini dan itu. Namun orang luar yang singgah ke Palangkaraya, biasanya tak lupa diantar oleh tuan rumahnya mengunjungi batu itu guna melihat betapa miripnya karya alam itu dengan bahtera kayu ciptaan manusia. Dan juga bagi pasangan muda-mudi yang sedang dirasuk cinta, naik ke atas batu itu dengan memanjat tangga kayu dan akar-akar yang bersliweran membuka peluang untuk berpacaran dengan aman. Asal permisi dulu pada Bawi Kuwu dan puteranya yang malang, yang namanya sudah diabadikan lewat nama desa di tepi sungai Rungan itu.
Langganan:
Postingan (Atom)


